Hidup = Postingan
Di satu sore, aku merasa bahwa hidup ini memang tentang diri sendiri untuk saat ini.
*Karena katanya, kalau sudah berkeluarga justru sebaliknya, tentang diri sendirinya lebih sedikit.
Kalau mau post sesuatu ya silakan, kalau tidak juga tidak apa-apa.
Tapi, kepercayaan diri itu memang bukan tentang berani posting sesuatu atau tidak, lebih kepada, apakah aku boleh memposting di saat-saat seperti ini?
Yang menurutku, ini berada di pertengahan jalan menuju terminal kesekian.
Padahal, siapa yang tahu? Sedangkan tiap aku bertemu, mereka menganggapku sudah sampai ke terminal tersebut meski ragu karena bertanya untuk memastikan.
Jadi sebenarnya, orang-orang akan peduli terhadap kehidupannya sendiri sebanyak 90 persen.
Sisanya dibagi-bagi kepada keluarga, teman, sahabat dan lain-lain.
Ataukah sekarang, memposting diterjemahkan sebagai pembuktian diri?
Secara tidak langsung, persepsiku ini menjadikan hal yang sepele menjadi hal besar.
Karena aku takut bahwa memposting adalah tindakan yang terlalu berisiko.
Padahal, setiap orang punya persepsi yang berbeda tentangku, mungkin iya ada yang diam-diam mengamati dan menjustifikasi aku ini seperti apa.
Atau ada juga yang hanya senang karena melihat kabar terbaruku.
Dan ada juga yang merasa netral; Melihat postinganku hanyalah bagian dari rutinitasnya dalam menggulir media sosial, tanpa makna mendalam apa-apa.

.jpg)

Komentar
Posting Komentar